Friday, 5 July 2013

Mencintai Tanpa Syarat


ALHAMDULILLAHI rabbil ‘alamin ‘alaa kulli haal. Segala puji bagi Allah Ta’ala dalam segala keadaan. Kepada-Nya kita kita memuji dengan pujian yang sempurna. Tiada tuhanselain Allah ‘Azza wa Jalla. Hanya Dia yang layak untuk dipuji dan disembah dengan sepenuh penghambaan. Kepada Allah Ta’ala kita meminta pertolongan dan menyandarkan harapan.

Shalawat dan salam semoga tak habis-habis kita lantunkan untuk Rasulullah Muhammad shallaLlahu‘alaihi wa ‘alaa `alihi wa shahbihi wa sallam. Tiada kecintaan kepada Allah‘Azza wa Jalla kecuali dengan mentaati utusan-Nya, Muhammad Al-Amin yang menjadi penutup para nabi. Inilah risalah terakhir yang harus kita pegangi.Tidak ada yang lebih berharga untuk kita wariskan kepada anak-anak kita melebihi segenggam iman yang kita harapkan dengan sepenuh kesungguhan agar tumbuh berakar menguat dalam jiwa mereka.

Akan tetapi….

Tak seperti harta yang dengan sendirinya diwarisi, harus ada perjuangan agar iman itu tumbuh, berkembang, mengakar dan menguat dalam jiwa anak-anak kita sehingga mereka bersedia meneteskan keringat untuk menyemainya. Kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh agar mereka tak berpaling. Dan ini bukan soal kecerdasan. Betapa banyak orang yang memiliki pengetahuan luas, fasih berbicara bahasa Arab, tapi iman itu tak bersemayam dalam dirinya. Betapa banyak orang yang mengetahui dan bahkan memahami nash dengan sangat matang,tapi ia justru menjadi penentangnya yang paling lantang. Betapa banyak orang yang memiliki banyak hafalan, tapi sikap beragamanya justru plin-plan. Na’udzubillahi min dzaalik. Inilah pertanyaan besar yang perlu kita renungi senantiasa agar segenggam iman dalam jiwa anak kita tak terlepas dan berganti dengan keingkaran.

Telah berlalu dari zaman kita ini orang-orang yang cemerlang pengetahuannya, disegani kepakarannya dalam bidang ilmu pengetahuan dan dihormati kepemimpinannya. Dan mereka justru meraih itu semua bermula dari keimanannya yang sangat kuat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Iman itu menggerakkan mereka untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat baginya, termasuk belajar mendalami berbagi cabang pengetahuan. Mereka menjadi pribadi yang kuat karena mereka tidak menyandarkan harapan kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla semata. Tak sibuk meratapi masa lalu karena khawatir menjadi pintu masuknya setan untuk melemahkan jiwa dan imannya.

Ada yang perlu kita renungkan di sini. Jika iman benar-benar tumbuh, maka kesungguhan dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat baginya adalah buah yang manis untuk dipetik. Ini sekaligus menandakan bahwa jika kesungguhan itu tidak hadir, ada yang perlu diperiksa atas iman mereka. Adakah mereka telah benar-benar beriman ataukah hanya memiliki banyak pengetahuan tentang iman. Sangat berbeda mengimani dengan memiliki pengetahuan tentang iman. Seorang yang beriman sudah sepatutnya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengilmui apa yang ia imani. Tetapi sekedar memiliki banyak pengetahuan tentang iman tak serta merta menjadikan diri beriman.

Nah, inilah yang perlu kita renungkan seraya mengingat bahwa sepeninggal kita nanti, di luar shadaqah jariyah dan ilmu yang manfaat, tak adalagi yang dapat kita harapkan manfaatnya selain anak-anak shalih yang mendo’akan. Artinya, pertama-pertama mereka harus menjadi pribadi yang shalih dulu, lalu bersebab keshalihannya mereka mendo’akan kita. Bisa saja anak mendo’akan kita setiap hari meskipun mereka tidak shalih. Tetapi apa manfaat yang dapat kita harap jika mereka mengerjakan apa-apa yang menjadi penghalang terkabulnya do’a? Maka, atas do’a anak-anak kita, yang pertama kali kita perlu risaukan adalah iman mereka; keshalihan mereka.

Jika anak-anak menjadi pribadi yang shalih bersebab upaya kita, apakah dengan mengajarkan agama ini secara langsung kepada mereka ataukah mengantarkan mereka meraih keshalihan melalui didikan guru-guru terbaik, maka atas setiap kebaikan yang mereka perbuat ada pahala yang mengalir untuk kita. Jadi, keshalihan itu pun telah berlimpah manfaatnya meskipun mereka belum mendo’akan kita. Apatah lagi jika mereka tak putus-putus berdo’a memohon kasih-sayang Allah ‘Azza wa Jalla bagi kita.

Tetapi apakah yang menjadikan mereka senantiasa berkeinginan untuk mendo’akan kita? Apakah yang membuat mereka senantiasa mengingat kita? Kedekatan emosi. Jika anak-anak itu tak pernah memiliki rasa rindu kepada kita, bagaimana kita berharap mereka akan senantiasa menyebut-nyebut nama kita dalam do’a mereka sesudah kita tiada? Saat hidup saja tak dirindukan. Apalagi jika nyawa telah tercabut dari badan. Masalahnya, sudahkah kita menyemai rasa rindu di hati anak-anak kita? Sudahkah kita memanfaatkan saat-saat berharga untuk anak kita dengan membersamai mereka dan hadir dalam kehidupan mereka secara bermakna? Inilah yang agaknya perlu kita periksa lebih dalam: saat berharga untuk anak kita. Apa maknanya bagi anak?

Apakah ini berarti kita tak perlu bersibuk mengembangkan potensi mereka? Sangat perlu. Hanya saja kita perlu mengingat bahwa itu semua seharusnya untuk menjadikan anak-anak kita semakin ringan hatinya menolong agama Allah ‘Azza wa Jalla. Kita perlu mencerdaskan anak dan melejitkan potensi mereka.

Apakah ini berarti kita tak perlu bersibuk melejitkan kecerdasan mereka? Sangat perlu. Tapi cerdas saja tidak cukup. Demikian pula cara untuk mengantarkan anak-anak meraih kecemerlangan tersebut amat perlu kita perhatikan. Jangan sampai ambisi kita menjadikan anak “tampak istimewa” justru menjadi sebab rapuhnya jiwa dan lemahnya iman bersebab kita mengejar yang instant, melupakan yang fundamental.

Lalainya kita dari memperhatikan hal-hal yang fundamental justru dapat menjatuhkan kita pada kesalahan yang berkepanjangan, penyesalan tak berkesudahan atau kesia-siaan yang besar, padahal kita telah berpayah-payah melakukannya. Atau justru karena tak mau berpayah-payah, kita mengabaikan yang berharga sekaligus amat bermanfaat untuk anak.

Inginnya anak jenius, tetapi cara instant yang kita tempuh ternyata tak memberi manfaat apa-apa. Musik Mozart salah satu contohnya. Banyak orang mempercayai mitos bahwa memperdengarkan musik Mozart kepada bayi akan menjadikannya jenius. Padahal tak ada riset yang mendukung. Yang ada justru membantah anggapan itu. Sudah ratusan ribu keeping CD Mozart terjual, sembari melupakan bahwa pada waktu kecil Mozart tak pernah mendengar musik Mozart, tetapi sampai hari ini tidak ada satu pun jenius yang terlahir darinya.

Sama halnya dengan bakat. Banyak yang berlebihan menilai bakat seolah ia menjadi penentu keberhasilan, seakan bakat dengan sendirinya menjadikan seseorang unggul. Orangtua sibuk mencari tahu bakat anak, tapi lupa melapangkan hati untuk mencintai tanpa syarat, meluangkan waktu untuknya dan menempanya agar memiliki kesungguhan serta tujuan hidup yang jelas. Kita lupa bagaimana para orangtua yang tak mengenal bakat dapat mengantarkan anak meraih kecemerlangan, bersebab penerimaan mereka apa adanya dan kesungguhannya mendidik anak. Di luar itu ada satu pertanyaan serius, bagaimana bakat itu melekat pada diri seseorang? Muncul dengan sendirinya?

Ada paradoks. Kita semakin banyak belajar tentang cara kerja otak, tapi di saat yang sama justru semakin enggan berpikir. Kita enggan menelaah, sehingga tak tahu mana yang ilmiah mana yang pseudo-ilmiah. Seakan ilmiah, padahal bukan.

Catatan ringan di buku ini ingin mengajak Anda semua untuk senantiasa menakar kembali langkah kita mengasuh anak, adakah ia menguatkan segenggam iman anak kita ataukah justru sebaliknya; iman tak semakin kokoh, sementara kecemerlangan yang kita harap pun tak teraih.

Kepada Allah Ta’ala saya memohon hidayah dan inayah-Nya. Kepada Allah Ta’ala kita memohon keselamatan bagi diri kita, keluarga kita dan keturunan kita seluruhnya. Kepada Allah Ta’ala kita memohon kebaikan dan kebahagiaan bagi kita, keluarga dan keturunan kita seluruhnya. Selebihnya, ingatkanlah saya dan berikanlah nasehat yang tulus. Apa yang benar pasti dari Allah ‘Azza wa Jalla. Dan apa yang salah sepenuhnya merupakan kejahilan dan kelalaian saya. Wallahu a’lam bish-shawab.*

Delapan Sikap Siapkan Diri Menyambut Ramadhan


TAK terasa kita telah memasuki bulan Sya’ban. Sebentar lagi kita akan kedatangan bulan Ramadhan. Setelah sekian lama berpisah, kini Ramadhan kembali akan hadir di tengah-tengah kita. Bagi seorang muslim, tentu kedatangan bulan Ramadhan akan disambut dengan rasa gembira dan penuh syukur, karena Ramadhan merupakan bulan maghfirah, rahmat dan menuai pahala serta sarana menjadi orang yang muttaqin.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita melakukan persiapan diri untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan, agar Ramadhan kali ini benar-benar memiliki nilai yang tinggi dan dapat mengantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa.

Tentu saja persiapan diri yang dimaksud di sini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat Allah Subhanahu Wata’ala dari pada manfaat yang diharapkan, itupun kalau ada manfaatnya. Bukan pula pergi ke pantai menjelang Ramadhan untuk rekreasi, makan-makan dan bermain-main.

Jadi, bagaimana sebenarnya cara kita menyambut Ramadhan? Apa yang mesti kita persiapkan dalam hal ini? Maka tulisan ini mencoba memberi jawaban dari pertanyaan tersebut. Menurut penulis, banyak hal yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan menyambut kedatangan Ramadhan, yaitu:

Pertama, berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sebagaimana yang dicontohkan para ulama salafusshalih. Mereka berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan sungguh-sungguh agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya dan selama enam bulan berikutnya mereka berdoa agar puasanya diterima Allah Subhanahu Wata’ala, karena berjumpa dengan bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Allah Subhanahu Wata’ala, Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya para salaf berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan berikutnya agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka kerjakan” (Lathaif Al-Ma’aarif: 174)

Di antara doa mereka itu adalah: ”Ya Allah, serahkanlah aku kepada Ramadhan dan serahkan Ramadhan kepadaku dan Engkau menerimanya kepadaku dengan kerelaan”. Dan doa yang populer: ”Ya Allah, berkatilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”.


Kedua, menuntaskan puasa tahun lalu. Sudah seharusnya kita mengqadha puasa sesegera mungkin sebelum datang Ramadhan berikutnya. Namun kalau seseorang mempunyai kesibukan atau halangan tertentu untuk mengqadhanya seperti seorang ibu yang sibuk menyusui anaknya, maka hendaklah ia menuntaskan hutang puasa tahun lalu pada bulan Sya’ban.

Sebagaimana Aisyah r.a tidak bisa mengqadha puasanya kecuali pada bulan Sya’ban. Menunda qadhapuasa dengan sengaja tanpa ada uzur syar’i sampai masuk Ramadhan berikutnya adalah dosa, maka kewajibannya adalah tetap mengqadha, dan ditambah kewajiban membayar fidyah menurut sebagian ulama.

Ketiga, persiapan keilmuan (memahami fikih puasa). Mu’adz bin Jabal r.a berkata: ”Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.

Oleh karena itu, suatu amal perbuatan tanpa dilandasi ilmu, maka kerusakannya lebih banyak daripada kebaikannya. Maka dalam hal ini, hanya dengan ilmu kita dapat mengetahui cara berpuasa yang benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam. Begitu juga ilmu sangat diperlukan dalam melaksanakan ibadah lainnya seperti wudhu, shalat, haji dan sebagainya. Maka, menjelang Ramadhan ini sudah sepatutnya kita untuk membaca buku fiqhus shiyam (fikih puasa) dan ibadah lain yang berkaitan dengan Ramadhan seperti shalat tarawih, i’tikaf dan membaca al-Quran.

Kempat, persiapan jiwa dan spiritual. Persiapan yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam.

Persiapan jiwa dan spiritual merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam upaya untuk memetik manfaat sepenuhnya dari ibadah puasa. Penyucian jiwa (Tazkiayatun nafs) dengan berbagai amal ibadah dapat melahirkan keikhlasan, kesabaran, ketawakkalan, dan amalan-amalan hati lainnya yang akan menuntun seseorang kepada jenjang ibadah yang berkualitas. Salah satu cara untuk mempersiapkan jiwa dan spritual untuk menyambut Ramadhan adalah dengan jalan melatih dan memperbanyak ibadah di bulan sebelumnya, minimal di bulan Sya’ban ini seperti memperbanyak puasa Sunnat.

Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban merupakan sunnah Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam. Aisyah ra, ia berkata, “Aku belum pernah melihat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassallam berpuasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassallam berpuasa sebanyak yang ia lakukan di bulan Sya’ban." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, dari Usamah bin Zaid r.a ia berkata, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa pada bulan-bulan lain yang sesering pada bulan Sya’ban”. Beliau bersabda, “Itu adalah bulan yang diabaikan oleh orang-orang, yaitu antara bulan Ra’jab dengan Ramadhan. Padahal pada bulan itu amal-amal diangkat dan dihadapkan kepada Rabb semesta alam, maka aku ingin amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR. Nasa’i dan Abu Daud serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

Adapun pengkhususan puasa dan shalat sunat seperti shalat tasbih pada malam nisfu sya’ban (pertengahan Sya’ban) dengan menyangka bahwa ia memiliki keutamaan, maka hal itu tidak ada dalil shahih yang mensyariatkannya. Menurut para ulama besar, dalil yang dijadikan sandaran mengenai keutamaannisfu sya’ban adalah hadits dhaif (lemah) yang tidak bisa dijadikan hujjah dalam persoalan ibadah, bahkanmaudhu’ (palsu). Oleh Sebab itu, Imam Ibnu Al-Jauzi memasukkan hadits-hadits mengenai keutamaan nishfu Sya’ban ke dalam kitabnya Al-Maudhu’at (hadits-hadits palsu).

Al-Mubarakfuri berkata, “Saya tidak mendapatkan hadits marfu’ yang shahih tentang puasa pada pertengahan bulan Sya’ban. Adapun hadits keutamaan nisfu Sya’ban yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah saya telah mengetahui bahwa hadits ini adalah hadits sangat lemah” (Tuhfah Al-Ahwazi: 3/444).

Syaikh Shalih bin Fauzan berkata, “Adapun hadits-hadits yang terdapat dalam masalah ini, semuanya adalah hadits palsu sebagaimana dikemukakan oleh para ulama. Akan tetapi bagi orang yang memiliki kebiasaan berpuasa pada ayyamul bidh (tanggal 14, 15, 16), maka ia boleh melakukan puasa pada bulan Sya’ban seperti bulan-bulan lainnya tanpa mengkhususkan hari itu saja.”

Syaikh Sayyid Sabiq berkata, “Mengkhususkan puasa pada hari nisfu Sya’ban dengan menyangka bahwa hari-hari tersbut memiliki keutamaan dari pada hari lainnya, tidak memiliki dalil yang shahih” (Fiqh As-Sunnah: 1/416).

Kelima, persiapan dana (finansial). Sebaiknya aktivitas ibadah di bulan Ramadhan harus lebih mewarnai hari-hari ketimbang aktivitas mencari nafkah atau yang lainnya. Pada bulan ini setiap muslim dianjurkan memperbanyak amal shalih seperti infaq, shadaqah dan ifthar (memberi bukaan). Karena itu, sebaiknya dibuat sebuah agenda maliah (keuangan) yang mengalokasikan dana untuk shadaqah, infaq serta memberi ifhtar selama bulan ini. Moment Ramadhan merupakan moment yang paling tepat dan utama untuk menyalurkan ibadah maliah kita. Ibnu Abbas r.a berkata, ”Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan.” (H.R Bukhari dan Muslim). Termasuk dalam persiapan maliah adalah mempersiapkan dana agar dapat beri’tikaf dengan tanpa memikirkan beban ekonomi untuk keluarga.

Keenam, persiapan fisik yaitu menjaga kesehatan. Persiapan fisik agar tetap sehat dan kuat di bulan Ramadhan sangat penting. Kesehatan merupakan modal utama dalam beribadah. Orang yang sehat dapat melakukan ibadah dengan baik. Namun sebaliknya bila seseorang sakit, maka ibadahnya terganggu. Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Pergunakanlah kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)

Maka, untuk meyambut Ramadhan kita harus menjaga kesehatan dan stamina dengan cara menjaga pola makan yang sehat dan bergizi, dan istirahat cukup.

Ketujuh, menyelenggarakan tarhib Ramadhan. Disamping persiapan secara individual, kita juga hendaknya melakukan persiapan secara kolektif, seperti melakukan tarhib Ramadhan yaitu mengumpulkan kaum muslimin di masjid atau di tempat lain untuk diberi pengarahan mengenai puasa Ramadhan, adab-adab, syarat dan rukunnya, hal-hal yang membatalkannya atau amal ibadah lainnya.

Menjelang bulan Ramadhan tiba, Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam memberikan pengarahan mengenai puasa kepada para shahabat. Beliau juga memberi kabar gembira akan kedatangan bulan Ramadhan dengan menjelaskan berbagai keutamaannya. Abu Hurairah ra berkata, “menjelang kedatangan bulan Ramadhan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Telah datang kepada kamu syahrun mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam itu, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi). Selain itu, banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam untuk memberi motivasi dan semangat kepada para sahabat dan umat Islam setelah mereka dalam beribadah di bulan Ramadhan.

Akhirnya, penulis mengajak seluruh umat Islam khususnya di Aceh untuk menyambut bulan Ramadhan yang sudah di ambang pintu ini dengan gembira dan mempersiapkan diri untuk beribadah dengan optimal. Selain itu kita berharap kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar ibadah kita diterima, tentu dengan ikhlas dan sesuai Sunnah Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan dan dapat meraih berbagai keutamaannya.*



Penulis adalah ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh & kandidat Doktor Ushul Fiqh, International Islamic University Malaysia (IIUM)

Menjadi Mukmin “Gandum”


DALAM sebuah Hadits Anas bin Malik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin itu seperti setangkai gandum, terkadang condong dan terkadang tegak.” (Riwayat Abu Ya’la. Isnad-nya hasan).

Apakah yang beliau maksud dalam Hadits tersebut di atas? Coba perhatikanlah ladang gandum atau padi. Ketika angin bertiup lembut, tangkai mayangnya melambai-lambai dengan anggun. Ketika angin kembali tenang, mereka tegak lagi dengan indahnya. Bila angin bertiup lebih keras yang sanggup mematahkan cabang-cabang pohon besar dan bahkan mencabutnya sampai ke akar, gandum dan padi itu ternyata juga rebah, akan tetapi tidak tercerabut dari akarnya. Maka demikian pulalah seorang mukmin. Dinamika kehidupan bisa mendatanginya dengan seribu satu wajah, namun dia tetap seorang mukmin. Ujian dan cobaan mungkin menerpanya dari berbagai penjuru, dan terkadang dia harus rebah, namun keyakinannya kepada Allah tidak pernah gugur.

Mukmin Berbagai Kondisi

Seorang mukmin memiliki prinsip-prinsip yang terang dalam menjalani hidupnya, karena setiap sikapnya dilandasi ilmu dan keyakinan. Ia tidak sekadar ikut-ikutan, apalagi terhanyut oleh tren dan mode. Maka dalam segala situasi dia mantap dan percaya diri, karena tahu betul bahwa dirinya berada di atas kebenaran.

Sekilas, mungkin dia bisa terkesan sombong. Namun, ada perbedaan besar antara kesombongan dengan keyakinan. Kesombongan dilandasi penolakan terhadap kebenaran dan dikobarkan oleh nafsu untuk meremehkan sesama, sementara keyakinan didasari oleh ilmu dan iman. Dalam hal ini, Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau seberat biji sawi.” Ada yang berkata, “Sungguh seseorang itu ingin bajunya bangus, demikian pula sandalnya.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah, Dia pun mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR Riwayat Muslim)

Sebaliknya, keteguhan seorang mukmin adalah refleksi iman, sebagai pengamalan dari sabda Rasulullah ini, “Janganlah kalian menjadi orang yang plin-plan, yang berkata: ‘Jika orang lain baik, kami pun baik; jika mereka zhalim, kami pun zhalim.’ Akan tetapi, teguhkan diri kalian. Jika orang lain baik, hendaknya kalian pun baik, dan jika mereka berbuat keburukan, maka jangan kalian ikut menjadi zhalim.” (Riwayat at-Tirmidzi dan al-Bazzar, dari Hudzaifah. Hadits hasan-gharib).

Inilah yang disebut dengan shiddiq, salah satu sifat yang sangat mulia. Secara bahasa, shiddiq artinya jujur dan benar. Apa yang dimaksud jujur dan benar di sini tidak hanya pada perkataan, namun lebih luas lagi. Kejujuran seorang shiddiq juga terlihat dalam perbuatannya, tindak-tanduknya, isi hatinya, pikirannya, cita-citanya, dan seterusnya. Pendeknya, seluruh aspek kepribadiannya adalah jujur dan benar, bukan kebohongan dan rekayasa. Ia adalah Muslim ketika sendirian maupun di hadapan orang banyak.

Ia adalah orang baik-baik, entah saat lapang atau sempit, saat berkuasa atau saat menjadi rakyat jelata. Ada kesempatan maupun tidak, dia tetaplah orang yang sama baiknya. Tentu saja, seseorang yang tiba-tiba menjadi baik dan dekat dengan masyarakat menjelang Pemilu dan Pilkada, bukan penyandang sifat shiddiq, kecuali jika sudah seperti itu sejak dahulu, dan akan tetap demikian sampai akhir hayatnya. Kita dapat menyebut seorang mukmin sebagai pribadi yang memiliki integritas tinggi.

Abu Bakar as-Shiddiq

Contoh pribadi shiddiq, selain para Nabi dan Rasul, adalah Abu Bakar. Sosok ini benar-benar layak menyandang gelar tersebut, karena sedemikian teguhnya sikap yang beliau miliki. Riwayat-riwayat yang mengisahkan biografi beliau menggambarkan dengan gamblang bahwa di zaman jahiliyah sekali pun, ternyata beliau tidak pernah berzina atau minum khamr. Padahal, keduanya merupakan perilaku yang sangat umum didapati pada masa itu. Maka, Umar bin Khattab pun “menyerah” karena tidak sanggup mengejar keutamaan Abu Bakar.

Ibnu Mas’ud pernah ditanya oleh Sa’id bin Zaid, “Wahai Abu Abdirrahman, Rasulullah telah wafat, dimanakah beliau sekarang?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Beliau di surga.” Sa’id bertanya lagi, “Abu Bakar telah meninggal, di manakah beliau sekarang?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Orang yang penuh kasih itu, selalu mencari kebajikan dimana pun adanya.” Sa’id bertanya kembali, “Umar pun telah meninggal, dimanakah beliau sekarang?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Bila orang-orang shalih disebut, ayo segeralah sebutkan Umar!” (Riwayat Abdurrazzaq dan ath-Thabrani. Sanad-nya hasan).

Benar. Abu Bakar adalah sosok yang selalu mengejar kebajikan dimana pun adanya. Maka, sangat wajar jika beliau termasuk salah seorang yang dipanggil masuk surga dari semua pintu, dan dipersilakan memilih mana saja yang disukainya. Sebab, beliau punya “tiket” untuk semuanya.

Rasulullah pernah bersabda, “Siapa yang membiayai dua orang istri dari hartanya sendiri di jalan Allah, akan dipanggil dari pintu-pintu surga. Surga itu mempunyai pintu-pintu. Siapa yang tekun mengerjakan shalat, dipanggil dari pintu shalat. Siapa yang rajin bersedekah, dipanggil dari pintu sedekah. Siapa yang gemar berjihad, dipanggil dari pintu jihad. Siapa yang suka berpuasa, dipanggil dari pintu Ar-Rayyan.” Maka, Abu Bakar pun berkata, “Tidak masalah bagi seseorang jika dipanggil dari pintu surga yang mana saja. Wahai Rasulullah, apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu itu?” Rasulullah menjawab, “Ya, ada. Dan, sungguh aku berharap engkau adalah salah seorang di antara mereka.” (Riwayat Ahmad. Semua perawinya tsiqah).

Inilah orang shiddiq itu, dan demikianlah gambaran ideal seorang mukmin. Oleh karenanya, para ulama’ berusaha keras mengumpulkan satu demi satu sifat dan tanda keimanan. Salah satu kumpulan paling baik di bidang ini adalah Al-Jami’ Li Syu’abil Iman, karya Imam Abu Bakr al-Baihaqi. Kitab ini sangat tebal, sampai 14 juz dan memuat lebih dari 10 ribu riwayat. Namun, beruntunglah bahwa al-Qadhi Abul Ma’ali al-Qazwini telah meringkaskannya untuk kita, sehingga menjadi 178 halaman saja. Di dalamnya telah dipaparkan 77 cabang iman, yang dengan mengamalkannya akan menjadikan kita seorang mukmin yang paripurna.



Menurut hemat kami, daripada membaca ulasan karakter manusia unggul yang bersumber dari penulis-penulis Barat, seribu kali jauh lebih baik kita menelaah karya semacam ini. Membaca ayat Al-Qur’an dan menelaah Hadits jelas bernilai ibadah dan mengandung dzikir, sesuatu yang tidak akan kita dapatkan dari karya-karya berbasis psikologi materialis-sekuler yang seringkali anti-Tuhan, menolak metafisika, dan tidak sedikit pun berbicara tentang akhirat. Tunggu apa lagi? Ayo, kejarlah kebajikan itu dimana pun adanya!.

Berusaha dan Tawakkal, Bukan Diam dan Berangan-angan!


SECARA bahasa, istilah tawakkal berasal dari al-wakalah, yaitu penyerahan dan penyandaran. Orang ber-tawakkal kepada yang lain ketika hatinya merasa tenang dan percaya kepada yang disandarinya itu, tidak mencurigainya akan berbuat sembrono, dan tidak melihat adanya kelemahan maupun cacat padanya. Sedangkan menurut istilah syari’at, tawakkal adalah percaya (tsiqah) kepada apa yang ada di sisi Allah dan tidak mengharapkan apa yang ada di tangan selain-Nya, termasuk sesama manusia.

Menurut Imam al-Baihaqi dalam Al-Jami’ Li Syu’abil Iman, tawakkal merupakan kewajiban seorang mukmin dan menjadi salah satu pertanda eksistensi iman di dalam hatinya. Di antara 77 cabang iman yang beliau uraikan dalam kitab tersebut, tawakkal adalah cabang ke-13. Ini sekaligus mengisyaratkan betapa pentingnya kedudukan tawakkal dalam akidah seorang muslim. Namun, karena tawakkalmerupakan hakikat yang abstrak, ia sangat sering disalahpahami, yang kemudian melahirkan tindakan-tindakan yang salah pula.

Atas dasar ini, seorang mukmin sepenuhnya percaya bahwa rezekinya, nasibnya, bahkan hidup dan matinya, pada hakikatnya adalah dijamin oleh Allah; bukan oleh bos, atasan, majikan, suami, direktur, komandan, atau siapa pun yang lain; bukan pula oleh pabrik, lembaga pendidikan, bisnis, titel, pekerjaan, jabatan, atau apa pun yang lain. Alhasil, setiap kali ia mendapat gaji, bonus, dan rezeki maka seketika hatinya akan tersambung dan berterima kasih kepada Allah, bukan kepada yang lain. Karenanya pula ia tidak pernah lupa berbagi dan bersedekah dengan sebagian darinya, sebagai ekspresi syukur kepada Allah Sang Pemberi.

Keyakinan seperti inilah yang akan membuatnya berani dan tidak lembek. Ia takkan bisa ditekan untuk melakukan kemaksiatan oleh atasan maupun lembaga tempatnya bekerja, walau diancam akan dipecat jika menolak. Sebab, ia tahu bahwa rezeki datangnya dari Allah, bukan dari manusia. Prinsip serupa dipegangnya erat-erat dalam masalah jodoh, karier, pendidikan, dsb. Dengan kata lain, mestinya tawakkal menjadi energi positif yang membangun dan menegakkan sikap, bukan racun yang menghancurkan dan melumerkan prinsip.
Jadi, tawakkal sebenarnya tidak identik dengan pasrah, diam, atau mengalah; bahkan justru sebaliknya. Ayat-ayat tentang tawakkal di dalam al-Qur’an penuh dengan motivasi agar terus maju, pantang mundur, bekerja keras, dan tidak takut terhadap ancaman maupun rintangan yang menghadang. Misalnya, ketika Bani Israil gentar dan menolak maju ke medan perang karena melihat musuh-musuhnya yang sangat kuat, maka:

قَالَ رَجُلاَنِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُواْ عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang telah Allah beri nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu! Maka bila kalian memasukinya niscaya kalian akan menang! Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman!” (QS. Al-Ma’idah: 23)

Ayat-ayat yang menggugah semangat seperti ini dapat dibaca dalam berbagai surah yang lain, seperti Ali ‘Imran: 122 dan 159-160, al-Ma’idah: 11, at-Taubah: 51, Ibrahim: 11-12, an-Naml: 79, dsb. Bacalah secara utuh ayat-ayat lain yang terletak sebelum maupun sesudah ayat-ayat tersebut, niscaya kita akan mengerti bahwa anjuran Al-Qur’an untuk ber-tawakkal justru berarti maju terus dan yakin kepada janji Allah.

Memang patut disayangkan ketika tawakkal banyak disalahartikan. Akhlak Islam yang sebenarnya hendak meletupkan energi raksasa ini malah diubah menjadi buaian yang meninabobokkan. Di antara dalil yang sering disalahpahami adalah hadits shahih riwayat Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah berikut ini: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, pasti Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberikannya kepada burung-burung. Mereka berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.”

Dengan berdalih pada hadits ini, sebagian orang kemudian tidak berbuat apa-apa, lalu mengharap rezekinya turun dari langit, nasibnya berubah tanpa kerja keras, dan akalnya menjadi cerdas tanpa belajar. Padahal, kalau kita cermati baik-baik hadits diatas, ternyata burung tersebut tidak hanya mendekam di sarangnya. Ia terbang mengepakkan sayapnya lalu mendatangi tempat-tempat dimana rezekinya biasanya banyak terdapat. Lihatlah, bahkan burung yang tidak berakal pun bekerja keras untuk setiap suapan makanannya. Bagaimanakah manusia yang diberi akal dan ilmu rela duduk bermalas-malasan?

Ketidaktepatan lain yang sering muncul dalam memahami tawakkal adalah ketika ia disandingkan dengan “usaha”. Bahkan ada yang sengaja menjadikannya sebagai dua hal yang berlawanan. Seolah-olah orang yang bertawakkal tidak perlu berusaha, dan orang yang berusaha berarti tidak bertawakkal. Benarkah demikian? Terkait masalah ini, seorang tokoh Sufi termasyhur, yaitu Abu Muhammad Sahl bin ‘Abdullah at-Tustariy az-Zahid (w. 283 H) berkata, “Barangsiapa yang mencela usaha (al-iktisab) maka dia telah mencela Sunnah, dan barangsiapa yang mencela tawakkal maka dia telah mencela iman.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatu al-Auliya’). Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Tawakkal adalah keadaan jiwa (haal) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan usaha (al-kasab) adalah Sunnah beliau. Barangsiapa yang berada pada haal beliau, maka jangan sekali-kali meninggalkan Sunnahnya.” (Dikutip dari ar-Risalah al-Qusyairiyah).



Dengan kata lain, tawakkal adalah amalan hati seorang mukmin, sedangkan usaha adalah amalan fisiknya. Namun, betapa banyak orang yang memutar-balikkannya: hatinya berusaha dengan terus berangan-angan, sedangkan badannya bertawakkal dengan diam dan bersandar.Wallahu a’lam.*/Alimin Mukhtar
 

like this

Abubakar r.a. berkata, "iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik , orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut". Umar r.a. berkata, "kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik , seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut". Utsman r.a. berkata, "ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik , orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber'amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut". 'Ali r.a. berkata, "tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik , menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut". Fatimah r.ha.berkata, "seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yangtak pernah dilihat orang lain kecuali mahramnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut". Rasulullah SAW berkata, "seorang yang mendapat taufiq untuk ber'amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber'amal dengan 'amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat 'amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut". Malaikat Jibril AS berkata, "menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut". Allah SWT berfirman, " Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut"

sharing ilmu islam Copyright © 2013 Template modification by Ikhwanul fikri