Kamis, 06 Juni 2013

Biografi Khalid bin Al Walid


Dia adalah Ibnu Al Mughirah.Dia dikenal dengan sebutan pedang Allah, ksatria berkuda, singa peperangan, pemimpin, imam, amir yang berwibawa, dan panglima para mujahidin, Abu Sulaiman Al Qurasyi, Al Makhzumi, Al Makki.
Ia adalah putra saudara perempuan Ummul Mukminin Maimunah binti Al Harits.
Dia hijrah sebagai seorang muslim pada bulan Shafar tahun 8 H, kemudian ikut dalam peperangan dan mati syahid dalam perang Muktah. Ketika ketiga pemimpin pasukan Islam mati syahid, yaitu bekas budak yang dimerdekakan oleh Zaid, keponakannya, Ja’far Dzul Janahain, dan Ibnu Rawahah, pasukan Islam berjuang tanpa pemimpin, sehingga Khalid mengambil alih kepemimpinan pasukan, mengambil bendera, lantas menyerang musuh. Setelah itu Khalid memperoleh kemenangan sehingga Nabi SAW menamainya dengan Saifullah (pedang Allah). Beliau kemudian bersabda, “Sesungguhnya Khalid adalah salah satu pedang Allah yang dimunculkan untuk menghabisi orang-orang musyrik.”
Dia juga turut dalam penaklukkan kota Makkah dan perang Hunain. Dia sempat menjadi pemimpin pada masa Nabi SAW. Dia memakai baju-baju besinya untuk berjuang di jalan Allah dan memerangi orang-orang murtad, Musailamah, memerangi Irak, dan menempuh jalan darat menembus pebatasan Irak hingga Syam dalam jangka waktu lima malam bersama pasukannya. Peperangan Syam tidak ketinggalan dia ikuti dan pada setiap ruas tubuhnya penuh dengan stempel kesyahidan.
Dia memiliki banyak keistimewaan. Dia diangkat Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai panglima pasukan tertinggi, kemudian dia mengepung Syam hingga berhasil menaklukkannya bersama Abu Ubaidah.
Dia hidup selama 60 tahun dan selama itu dia telah membunuh banyak pahlawan musuh. Keitka dia meninggal di atas kasurnya, tidak ada mata para pengecut yang menangisinya.
Dia meninggal di Himsh tahun 21 Hijriyah.
Diriwayatkan dari Abu Umamah bin Sahal, bahwa Ibnu Abbas menjelaskan kepadanya bahwa Khalid bin Walid yang disebut dengan saifullah mengabarkan bahwa suatu ketika dia dan Rasulullah SAW berkunjung ke rumah bibinya, Maimunah. Lalu dia menemukan seekor biawak yang telah dimasak disuguhkan oleh saudara perempuannya, Hufaidah binti Al Harits, dari Nejed. Ketika dia menyuguhkannya kepada Rasulullah SAW, Rasulullah SAW lantas mengangkat tangannya, maka dia bertanya, “Apakah ini haram wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Tidak, tetapi binatang seperti ini tidak ada di daerahku sehingga aku enggan memakannya.”
Setelah itu aku memotongnya dan memakannya, sementara Rasulullah SAW melihatku dan tidak menegurku.
Diriwayatkan dari Abu Al Aliyah, bahwa Khalid bin Walid pernah berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya seorang penipu dari golongan jin membingungkanku.” Beliau bersabda,
“Bacalah, ‘Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna, yang tidak bisa ditembus oleh orang baik dan jahat dari kejahatan sesuatu yang masuk di bumi dan keluar darinya, dari kejahatan sesuatu yang naik ke langit dan yang turun darinya, dari kejahatan segala jalan kecuali jalan yang baik wahai Allah Yang Maha Pengasih’.”
Tatkala bacaan itu dia amalkan, tak lama kemudian dia sembuh.
Diriwayatkan dari Amr bin Al Ash, dia berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah menyamakanku dan menyamakan Khalid dengan seseorang dalam peperangannya sejak kami masuk Islam.”
Ibnu Umar berkata, “Nabi SAW pernah mengirim Khalid untuk menyerang bani Jadzimah, lalu menawan beberapa orang pasukan musuh. Setelah itu Nabi SAW mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, اللَّهُمَّ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ خَالِدٌ ‘Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan kepada-Mu apa yang dilakukan oleh Khalid’, sebanyak dua kali.”93
Diriwayatkan dari Abdul Hamid bin Ja’far dari ayahnya, bahwa suatu ketika Khalid bin Al Walid kehilangan pecinya pada waktu perang Yarmuk, maka dia berkata, “Carilah peci itu!” Tetapi mereka tidak kunjung menemukannya. Ketika peci itu ditemukan, ternyata peci itu hanya peci usang. Khalid kemudian berkata, “Ketika Rasulullah SAW melakukan umrah, beliau memotong rambutnya, lalu para sahabat berebut mengambil rambut beliau, hingga aku mendahului mereka. Setelah itu aku meletakkannya di dalam peci tersebut. Jika aku memakai peci ini dalam peperangan, aku selalu diberi kemenangan.”
Diriwayatkan dari Qais, bahwa aku mendengar Khalid berkata, “Aku melihat diriku sendiri pada waktu perang Mu’tah, di tanganku ada bekas sabetan sembilan pedang dan di tanganku ada bekas sabetan senjata dari Yaman.”
Ibnu Uyainah meriwayatkan dari Ibnu Abu Khalid, maula94 keluarga Khalid bin Walid, bahwa Khalid pernah berkata, “Tidak ada malam yang pada saat itu aku dihadiahi seorang pengantin perempuan yang aku cintai, lebih aku senangi daripada malam yang sangat dingin dan banyak debu dalam perjalanan malam yang paginya menghadapi musuh.”
Qais bin Abu Hazim berkata, “Aku mendengar Khalid berkata, ‘Jihad menyebabkanku tidak banyak membaca’. Aku juga sempat melihatnya diberi racun. Mereka kemudian bertanya, ‘Apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Racun’. Khalid lalu berkata, ‘Bismillah’, lalu beliau meminumnya.”
Menurut aku, demi Allah, itu adalah karamah dan keberanian yang diberikan kepada Khalid.
Ibnu Aun berkata, “Ketika Umar menjadi wali, dia berkata, ‘Aku benar-benar akan mencopot Khalid dari posisi pemimpin pasukan hingga dia tahu bahwa Allah telah menolong agamanya tanpa Khalid’.”
Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dia berkata “Ketika Umar mencopot Khalid dari posisi pimpinan pasukan, Abu Ubaidah sengaja tidak memberitahukannya, hingga akhirnya Khalid mengetahuinya dari orang lain. Beliau kemudian berkata, ‘Semoga Allah merahmatimu! Apa yang mendorongmu untuk tidak memberitahuku?’ Abu Ubaidah menjawab, ‘Aku tidak mau membuatmu sedih’.”
Diriwayatkan dari Abu Az-Zinad, bahwa ketika ajal hendak menjemput Khalid bin Al Walid, dia menangis seraya berkata, “Aku telah mengikuti perang ini dan itu dengan gagah berani, hingga tidak ada sejengkal bagian pun di tubuhku kecuali ada bekas sabetan pedang atau tusukan anak panah, tetapi mengapa aku mati di atas kasurku tanpa bisa berbuat apa-apa, seperti halnya seekor keledai? Mata para pengecut tidak bisa terpejam’.”
-----------------
siyar alam an-nubala
Comments
0 Comments
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

0 komentar:

 

like this

Blog Archive

Abubakar r.a. berkata, "iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik , orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut". Umar r.a. berkata, "kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik , seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut". Utsman r.a. berkata, "ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik , orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber'amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut". 'Ali r.a. berkata, "tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik , menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut". Fatimah r.ha.berkata, "seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yangtak pernah dilihat orang lain kecuali mahramnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut". Rasulullah SAW berkata, "seorang yang mendapat taufiq untuk ber'amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber'amal dengan 'amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat 'amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut". Malaikat Jibril AS berkata, "menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut". Allah SWT berfirman, " Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut"

sharing ilmu islam Copyright © 2013 Template modification by Ikhwanul fikri